"Selamat Hari Bumi", terucap lantang bersama-sama. Sementara Bumi tidak tahu dan tidak peduli, sebab Hari Bumi bukanlah untuk Bumi, tapi untuk si penghuni. Kalaupun Bumi bisa berucap, mungkin dia hanya akan mengeluh betapa semakin tua dirinya, rasa sakit yang ditimpakan padanya semakin tidak terkira. Penghuni Bumi yang merasa memiliki, mereka tidak sadar bahwa penghuni hanya peminjam. Dan sebagai peminjam, kelak mereka harus mengembalikannya kepada anak-anak Bumi yang lain, yang lahir setelah mereka.
"Selamat Hari Bumi," terucap pada sang Bumi yang tetap diam sementara tubuhnya terus dirusak dan dijarah. Betapa keinginan manusia tidak ada habisnya. Dan ketika Bumi bergerak sekadar untuk menyeimbangkan diri, manusia berteriak bersama-sama, "Bencana alam! Tuhan marah!"
"Selamat Hari Bumi," terucap oleh saya pada Bumi yang tidak peduli, yang terus merayakan hari demi hari dengan mempertahankan keseimbangan, sementara manusia merayakan "hari jadinya" dengan terus membakar, meracuni, menggali, menguras, mengeksploitasi tubuhnya.
Dia tidak akan menjawab ucapan selamat kita, tapi di beberapa bagian tubuhnya terpancar titik-titik energi baru panas Bumi. Tahukah Bumi, bahwa panas yang berasal dari dalam tubuhnya dan disebut-sebut sebagai "bencana" oleh manusia itu sangat berharga dan bisa dijadikan pembangkit listrik jutaan watt? Tahukah Bumi, bahwa energi dari panas tubuhnya itu tidak menghasilkan polusi yang bisa meracuni dirinya sendiri seperti energi dari bahan bakar fosil? Tahukah Bumi, betapa sulitnya mengubah isi kepala pengambil kebijakan bebal yang enggan berpikir panjang karena sebab-sebab yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pelestarian alam?
Di hari peringatannya, dia malah memberi kita hadiah. Mengapa kamu tidak pernah lelah memberi, Bumi?
"Selamat Hari Bumi," terucap pada sang Bumi yang tetap diam sementara tubuhnya terus dirusak dan dijarah. Betapa keinginan manusia tidak ada habisnya. Dan ketika Bumi bergerak sekadar untuk menyeimbangkan diri, manusia berteriak bersama-sama, "Bencana alam! Tuhan marah!"
"Selamat Hari Bumi," terucap oleh saya pada Bumi yang tidak peduli, yang terus merayakan hari demi hari dengan mempertahankan keseimbangan, sementara manusia merayakan "hari jadinya" dengan terus membakar, meracuni, menggali, menguras, mengeksploitasi tubuhnya.
Dia tidak akan menjawab ucapan selamat kita, tapi di beberapa bagian tubuhnya terpancar titik-titik energi baru panas Bumi. Tahukah Bumi, bahwa panas yang berasal dari dalam tubuhnya dan disebut-sebut sebagai "bencana" oleh manusia itu sangat berharga dan bisa dijadikan pembangkit listrik jutaan watt? Tahukah Bumi, bahwa energi dari panas tubuhnya itu tidak menghasilkan polusi yang bisa meracuni dirinya sendiri seperti energi dari bahan bakar fosil? Tahukah Bumi, betapa sulitnya mengubah isi kepala pengambil kebijakan bebal yang enggan berpikir panjang karena sebab-sebab yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pelestarian alam?
Di hari peringatannya, dia malah memberi kita hadiah. Mengapa kamu tidak pernah lelah memberi, Bumi?
http://mpokb.blogdrive.com/archive/305.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar